Dream, Think, Action!

Dear all, Saya hanyalah seorang yang ingin mencoba untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan melalui blog ini. Bekerja sebagai IT + ambil program magister jurusan ekonomi syariah di UI Salemba. Saya sangat percaya bahwa setiap langkah dalam hidup ini tidak terlepas dari adanya “invisible hand” yang mengaturnya meskipun sebelumnya sudah direncanakan. Karenanya mintalah selalu kepadaNya agar setiap langkah diridhai-Nya.

Archive for February, 2008


Ketika Ikhwah Jatuh Cinta

Ketika Ikhwah Jatuh Cinta

Suatu
ketika, dalam majelis koordinasi seorang akhwat berkata pada mas’ul
dakwahnya, "Akhi, ana ga bisa lagi berinteraksi dengan akh fulan."
Suara akhwat itu bergetar. Nyata sekali menekan perasaannya. "Pekan
lalu, ikhwan tersebut membuat pengakuan yang membuat ana merasa risi
dan Afwan, terus terang juga tersinggung." Sesaat kemudian suara
dibalik hijab itu mengatakan, "Dia jatuh cinta pada ana." Mas’ul
tersebut terkejut, tapi ditekannya getar suaranya. Ia berusaha tetap
tenang. "Sabar ukhti, jangan terlalu diambil hati. Mungkin maksudnya
tidak seperti yang anti bayangkan." Sang mas’ul mencoba menenangkan
terutama untuk dirinya sendiri.

"Afwan, ana tidak menangkap maksud lain dari perkataannya.
Ikhwan itu mungkin tidak pernah berpikir dampak perkataannya. Kata-kata
itu membuat ana sedikit banyak merasa gagal menjaga hijab ana, gagal
menjaga komitmen dan menjadi penyebab fitnah. Padahal, ana hanya
berusaha menjadi bagian dari perputaran dakwah ini." Sang akhwat kini
mulai tersedak terbata.

"Ya sudah, ana berharap anti tetap istiqamah dengan kenyataan
ini, ana tidak ingin kehilangan tim dakwah oleh permasalahan seperti
ini." Mas’ul itu membuat keputusan, "Ana akan ajak bicara langsung akh
fulan."

Beberapa Waktu berlalu, ketika akhirnya mas’ul tersebut
mendatangi fulan yang bersangkutan. Sang Akh berkata, "Ana memang
menyatakan hal tersebut, tapi apakah itu suatu kesalahan?" Sang mas’ul
berusaha menanggapinya searif mungkin. "Ana tidak menyalahkan perasaan
antum. Kita semua berhak memiliki perasaan itu. Pertanyaan ana adalah,
apakah antum sudah siap ketika menyatakan perasaan itu. Apakah antum
mengatakannya dengan orientasi bersih yang menjamin hak-hak saudari
antum. Hak perasaan dan hak pembinaannya. Apakah antum menyampaikan
kepada pembina
antum untuk diseriuskan? Apakah antum sudah siap berkeluarga. Apakah
antum sudah berusaha menjaga kemungkinan fitnah dari pernyataan antum,
baik terhadap ikhwah lain maupun terhadap dakwah?" Mas’ul tersebut
membuat penekanan substansial.

"Akhi bagi kita perasaan itu tidak semurah tayangan sinetron
atau bacaan picisan dalam novel-novel. Bagi kita perasaan itu adalah
bagian dari kemuliaan yang Allah tetapkan untuk pejuang dakwah.
Perasaan itulah yang melandasi ekspansi dakwah dan jaminan kemuliaan
Allah SWT. Perasaan itulah yang mengeksiskan kita dengan beban berat
amanah ini. Maka Jagalah perasaan itu tetap suci dan mensucikan."

***

Cinta Aktivis Dakwah

Bagaimana
ketika perasaan itu hadir. Bukankah ia datang tanpa pernah diundang dan
dikehendaki? Jatuh cinta bagi aktivis dakwah bukanlah perkara
sederhana. Dalam konteks dakwah, jatuh cinta adalah gerbang ekspansi
pergerakan. Dalam konteks pembinaan, jatuh cinta adalah naik marhalah
pembinaan. Dalam konteks keimanan, jatuh cinta adalah bukti ketundukan
kepada sunnah Rasulullah SAW dan jalan meraih ridha Allah SWT.

Ketika aktivis dakwah jatuh cinta, maka tuntas sudah urusan prioritas cinta. Jelas, Allah, Rasulullah dan jihad
fii sabilillah adalah yang utama. Jika ia ada dalam keadaan tersebut,
maka berkahlah perasaannya, berkahlah cintanya dan berkahlah amal yang
terwujud dalam cinta tersebut. Jika jatuh cintanya tidak dalam kerangka
tersebut, maka cinta menjelma menjadi fitnah baginya, fitnah bagi
ummat, dan fitnah bagi dakwah. Karenanya jatuh cinta bagi aktivis
dakwah bukan perkara sederhana.

Ketika Ikhwan mulai bergetar hatinya terhadap akhwat dan
demikian sebaliknya. Ketika itulah cinta ‘lain’ muncul dalam dirinya.
Cinta inilah yang akan kita bahas disini. Yaitu sebuah karunia dari
kelembutan hati dan perasaan manusia. Suatu karunia Allah yang
membutuhkan bingkai yang jelas. Sebab terlalu banyak pengagung cinta
ini yang kemudian menjadi hamba yang tersesat. Bagi aktivis dakwah,
cinta lawan jenis adalah perasaan yang lahir dari tuntutan fitrah,
tidak lepas dari kerangka pembinaan dan dakwah. Suatu perasaan
produktif yang dengan indah dikemukakan oleh ibunda kartini, "Akan
lebih banyak lagi yang dapat saya kerjakan untuk bangsa ini, bila saya
ada disamping laki-laki yang cakap, lebih banyak kata saya daripada
yang saya usahakan sebagai perempuan yang berdiri sendiri."

Cinta memiliki 2 mata pedang. Satu sisinya adalah rahmat
dengan jaminan kesempurnaan agama dan disisi lainnya adalah gerbang
fitnah dan kehidupan yang sengsara. Karenanya jatuh cinta membutuhkan
kesiapan dan persiapan. Bagi setiap aktivis dakwah, bertanyalah dahulu
kepada diri sendiri, sudah siapkah jatuh cinta? Jangan sampai kita
lupa, bahwa segala sesuatu yang melingkupi diri kita, perkataan,
perbuatan, maupun perasaan adalah bagian dari deklarasi nilai diri
sebagai generasi dakwah. Sehingga umat selalu mendapatkan satu hal dari
apapun pentas kehidupan kita, yaitu kemuliaan Islam dan kemuliaan kita
karena memuliakan Islam.

***

Deklarasi Cinta

Sekarang adalah
saat yang tepat bagi kita untuk mendeklarasikan cinta diatas koridor
yang bersih. Jika proses dan seruan dakwah senantiasa mengusung
pembenahan kepribadiaan manusia, maka layaklah kita tempatkan tema
cinta dalam tempat utama. Kita sadari kerusakan prilaku generasi hari
ini, sebagian besar dilandasi oleh salah tafsir tentang cinta. Terlalu
banyak penyimpangan terjadi, karena cinta didewakan dan dijadikan
kewajaran melakukan pelanggaran. Dan tema tayangan pun mendeklarasikan
cinta yang dangkal. Hanya ada cinta untuk sebuah persaingan, sengketa.
Sementara cinta untuk sebuah kemuliaan, kerja keras dan pengorbanan,
serta jembatan jalan ke surga dan kemuliaan Allah, tidak pernah
mendapat tempat disana.

Sudah cukup banyak pentas kejujuran kita lakukan. Sudah
terbilang jumlah pengakuan keutamaan kita, sebuah dakwah yang kita
gagas, Sudah banyak potret keluarga yang baru dalam masyarakat yang
kita tampilkan. Namun berapa banyak deklarasi cinta yang sudah kita
nyatakan. Cinta masih menjadi topik ‘asing’ dalam dakwah kita. Wajah,
warna, ekspresi dan nuansa cinta kita masih terkesan ‘misteri’.
Pertanyaan sederhana, "Gimana sih, kok kamu bisa nikah sama dia, Emang
kamu cinta sama dia?" dapat kita jadikan indikator miskinnya kita
mengkampanyekan cinta suci dalam dakwah ini.

Pernyataan ‘Nikah dulu baru pacaran’ masih menjadi jargon
yang menyimpan pertanyaan misteri, "Bagaimana caranya, emang bisa?"
Sangat sulit bagi masyarakat kita untuk mencerna dan memahami logika
jargon tersebut. Terutama karena konsumsi informasi media tayangan,
bacaan, diskusi dan interaksi umum, sama sekali bertolak belakang
dengan jargon tersebut.

Inilah salah satu alasan penting dan mendesak untuk
mengkampanyekan cinta dengan wujud yang baru. Cinta yang lahir sebagai
bagian dari penyempurnaan status hamba. Cinta yang diberkahi karena
taat kepada sang Penguasa. Cinta yang diberkahi karena taat pada sang
penguasa. Cinta yang menjaga diri dari penyimpangan, penyelewengan dan
perbuatan ingkar terhadap nikmat Allah yang banyak. Cinta yang
berorientasi bukan sekedar jalan berdua, makan, nonton dan seabrek
romantika yang berdiri diatas pengkhianatan terhadap nikmat, rezki, dan
amanah yang Allah berikan kepada kita.

Kita ingin lebih dalam menjabarkan kepada masyarakatkan
tentang cinta ini. Sehingga masyarakat tidak hanya mendapatkan hasil
akhir keluarga dakwah. Biarkan mereka paham tentang perasaan seorang
ikhwan terhadap akhwat, tentang perhatian seorang akhwat pada ikhwan,
tentang cinta ikhwan-akhwat, tentang romantika ikhwan-akhwat dan
tentang landasan kemana cinta itu bermuara. Inilah agenda topik yang
harus lebih banyak dibuka dan dibentangkan. Dikenalkan kepada
masyarakat berikut mekanisme yang menyertainya. Paling tidak gambaran
besar yang menyeluruh dapat dinikmati oleh masyarakat, sehingga mereka
bisa mengerti bagaimana proses panjang yang menghasilkan potret
keluarga dakwah hari ini.

***

Epilog

Setiap kita yang mengaku
putra-putri Islam, setiap kita yang berjanji dalam kafilah dakwah,
setiap kita yang mengikrarkan Allahu Ghayatuna, maka jatuh cinta
dipandang sebagai jalan jihad
yang menghantarkan diri kepada cita-cita tertinggi, syahid fi
sabililah. Inilah perasaan yang istimewa. Perasaan yang menempatkan
kita satu tahap lebih maju. Dengan perasaan ini, kita mengambil jaminan
kemuliaan yang ditetapkan Rasulullah. Dengan perasaan ini kita
memperluas ruang dakwah kita. Dengan perasaan ini kita naik marhalah
dalam dakwah dan pembinaan.

Betapa Allah sangat memuliakan perasaan cinta orang-orang
beriman ini. Dengan cinta itu mereka berpadu dalam dakwah. Dengan cinta
itu mereka saling tolong menolong dalam kebaikan, dengan cinta itu juga
mereka menghiasi Bumi dan kehidupan di atasnya. Dengan itu semua Allah
berkahi nikmat itu dengan lahirnya anak-anak shaleh yang memberatkan
Bumi dengan kalimat Laa Illaha Ilallah. Inilah potret cinta yang
sakinah, mawaddh, warahmah. Jadi, "Sudah berani jatuh cinta?".
Wallahu’alam. [Al-Izzah-11/4/0105]


"Dan
barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan
mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. Kami biarkan ia
leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami
masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat
kembali" (QS. An-Nisa: 115)

Kuis SMS TV adalah 100% judi !

Dua hari yang lalu tmn sy ketemu dengan salah seorang AFI (Akademi Fantasi
Indosiar). Selain lepas kangen (he..he) dia juga dapat cerita seru dari
kehidupan mereka.

Di balik image mereka yang gemerlap saat manggung atau ketika nongol di
teve, kehidupan artis AFI sangat memprihatinkan.

Banyak di antara mereka yang hidup terlilit utang ratusan juta rupiah.
Pasalnya, orang tua mereka ngutang ke sana-sini buat menggenjot sms
putera-puteri mereka. Bisa dipastikan tidak ada satu pun kemenangan AFI itu yang
berasal dari pilihan publik.

Kemenangan mereka ditentukan seberapa besar orang tua
mereka anggup menghabiskan uang untuk sms. Orang tua Alfin dan Bojes
abis 1 M. Namun mereka orang kaya, biarin aja.

Yang kasian mah, yang kaga punya duit. Fibri (AFI 005) yang
tereliminasi di minggu-minggu awal kini punya utang 250 juta. Dia sekarang hidup di sebuah
kos sederhana di depan Indosiar. Kosnya emang sedikit mahal RP 500..000.

Namun itu dipilih karena pertimbangan hemat ongkos transportasi. Kos itu
sederhana (masih bagusan kos gw gitu loh), bahkan kamar mandi pun di luar.
Makannya sekali sehari. Makan dua kali sehari sudah mewah buat Fibri. Kaga ada dugem dan kehidupan
glamor, lha makan aja susah.

Ada banyak yang seperti Fibri. Sebut saja intan, Nana, Yuke, Eki, dll.

Mereka teikat kontrak ekslusif dengan manajemen Indosiar. Jadi, kaga bisa
cari job di luar Indosiar. Bayaran di Indonesiar sangat kecil. Lagian
pembagian job manggung sangat tidak adil.

Beberapa artis AFI seperti
Jovita dan Pasya kebanjiran job, sementara yang lain kaga dapat/jarang dapat job.
Maklum artisnya sudah kebanyakan. Makanya buat makan aja mereka susah.
Temen gw malah sering dijadiin tempat buat minjem duit. Minjemnya bahkan
cuma Rp 100.000. Buat makan gitu loh. Mereka ga berani minjem banyak
karena takut ga bisa bayar.

Ini benar-benar proyek yang tidak manusiawi.

Para orang tua dan anak
Indonesia dijanjikan ketenaran dan kekayaan lewat sebuah ajang adu
bakat di televisi.
Mereka dikontrak ekslusif selama dua tahun oleh Indosiar. Namun tidak ada
jaminan hidup sama sekali. Mereka hanya dibayar kalo ada manggung. Itu pun kecil sekali, dan tidak
menentu. Buruh pabrik yang gajinya Rp 900.000 jauh lebih sejahtera
daripada mereka.

Nah acara ini dan acara sejenis masih banyak, Pildacil juga begitu. Kasian
orang tua dan anak yang rela antre berjam-jam untuk sebuah penipuan
seperti ini.
Seorang anak pernah menangis tersedu-sedu saat tidak lolos dalam
audisi AFI. Padahal dia beruntung. Kalau dia sampai masuk, bisa dibayangkan betapa dia
akan membuat orang tuanya punya utang yang melilit pinggang, yang tidak akan
terbayar sampai kontraknya habis.

mungkin ada yang tertarik buat ngangkat cerita itu ke media anda? Gw punya
nomer kontak mereka.

Gaya hidup mereka yang kontras dengan image publik
kayanya menarik untuk diangkat. Ini juga penting agar anak-anak dan orang
tua di Indonesia kaga tertipu lebih banyak lagi.

JUDI SMS MENGGILAAAA ……

Tiap stasiun televisi di Indonesia mempunyai acara kontes-kontesan.
Tengok saja misalnya AFI, Indonesian Idol, Penghuni Terakhir, KDI, Putri
Cantrik, dsb. Sejatinya, tujuan dari acara ini bukan mencari bibit penyanyi terbaik.
Acara ini hanya sebagai kedok. Bisnis sebenarnya adalah SMS premium.

Bisnis ini sangat menggiurkan, lagi pula aman dari jeratan hukum –
setidaknya sampai saat ini. Mari kita hitung. Satu kali kirim SMS
iayanya –anggaplah- - Rp 2000.

Uang dua ribu rupiah ini sekitar 60% untuk penyelenggara SMS Center
(Satelindo, Telkomsel, dsb). Sisanya yang 40% untuk "bandar" (penyelenggara) SMS.

Siapa saja bisa jadi bandar, asal punya modal untuk sewa server yang
terhubung ke Internet nonstop 24 jam per hari dan membuat program aplikasinya.
Jika dari satu SMS ini "bandar" mendapat 40% (artinya sekitar Rp 800),
maka jika yang mengirimkan sebanyak 5% saja dari total penduduk Indonesia (Coba
anda hitung, dari 100 orang kawan anda, berapa yang punya handphone?
Saya yakin lebih dari 40%), maka bandar ini bisa meraup uang sebanyak
Rp 80.000.000.000 (baca: Delapan puluh milyar rupiah).

Jika hadiah yang diiming-imingkan adalah ? rumah senilai 1 milyar, itu
artinya bandar hanya perlu menyisihkan 1,25% dari keuntungan yang
diraupnya sebagai "biaya promosi"!

Dan ingat, satu orang biasanya tidak mengirimkan SMS hanya sekali.
Masyarakat diminta mengirimkan SMS sebanyak-banyaknya agar jagoannya tidak
tersisih, dan "siapa tahu" mendapat hadiah.

Kata "siapa tahu" adalah untung-untungan, yang mempertaruhkan pulsa
handphone. Pulsa ini dibeli pakai uang.

Artinya : Kuis SMS adalah 100% judi.

Begitu menggiurkannya bisnis ini, sampai-sampai Nutrisari membuat
iklan yang saya pikir menyesatkan.
Pemirsa televisi diminta menebak, "buka" atau "sahur", lalu jawabannya
dikirim via SMS. Ada embel-embel gratis.
Ada kata, "dapatkan handphone… " Saya bilang ini menyesatkan, karena
pemirsa televisi bisa menyangka :
"Dengan mengirimkan SMS ke nomor sekian yang gratis (toll free), saya bisa
mendapat handphone gratis".

Kondisi ini sudah sangat menyedihkan. Bahkan sangat gawat.
Lebih parah daripada zaman Porkas atau SDSB.
Jika dulu, orang untuk bisa berjudi harus mendatangi agen, jika dulu zaman
jahiliyah orang berjudi dengan anak panah, sekarang orang bisa berjudi,
hanya dengan beberapa ketukan jari di pesawat handphone!

Tolong bantu sebarkan kampanye anti judi SMS ini.
Tanpa bantuan anda, kampanye ini akan meredup dan sia-sia belakan

================================

Zulkarnain M.Ali

Program Studi Kajian Timur Tengah & Islam

Pasca Sarjana Universitas Indonesia

Miskin ≠ Malas

Menurut data BPS, pada bulan maret 2007 jumlah penduduk miskin di Indonesia sebesar 37,17 juta orang atau 16, 58 %  atau tiga kali lipat penduduk singapura. Ini bukanlah jumlah yang sedikit, 37,17 juta orang adalah jumlah yang besar. Banyak orang berpendapat kemiskinan itu disebabkan oleh kemalasan,  mungkin in some case kemiskinan memang disebabkan oleh kemalasan. Tak tahukah engkau masyarakat miskin menghabiskan  hampir seluruh harinya untuk bekerja mencari uang, mereka tidak bisa disebut pemalas, mereka bahkan lebih rajin dari kita, dan sampai sekarang mereka tetap miskin.. Kemiskinan telah menjadi vicious circle (lingkaran setan).

Aku lebih setuju pendapat yang mengatakan bahwa kemiskinan disebabkan oleh sistem. Tentu saja sitem kapitalis yang berpihak pada orang – orang yang memiliki kapital. Seorang  pedagang gorengan setiap hari berjualan dari pagi sampai malam, harga minyak yang melonjak, harga terigu yang melambung, semakin membuat mereka tercekik, keuntungan yang diperolehpun semakin menipis, dan mereka tidak dapat keluar dari lingkaran setan kemiskinan.

Kemiskinan merupakan masalah terbesar sebuah negara, berbagai cara harus ditempuh untuk menanggulangi masalah kemiskinan, salah satu cara adalah membuka akses pinjaman modal pada mereka, modal yang dapat digunakan untuk melakukan usaha. Tapi apakah penduduk miskin bisa mendapat pinjaman modal ? bank mana di Indonesia ini yang mau meminjamkan uang tanpa agunan ? masyarakat miskin dianggap tidak bankable, karena tidak dapat memenuhi persyaratan administratif termasuk agunan, masyarakat miskin dianggap tidak akan dapat mengembalikan pinjaman, masyarakat miskin dianggap tidak dapat mengelola uang pinjaman, dan masih banyak lagi stigma negatif lainnya.   Padahal memberikan kredit pada kaum miskin merupakan salah satu cara efektif untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat miskin.

Adalah  Muhammad Yunus[1], seorang dosen ekonomi Chittangong University Bangladesh, yang mematahkan stigma negatif tersebut. Bukan melalui kuliah – kuliah dikelasnya, tetapi melalui Grameen Bank yang dirintisnya, beliau memerangi kemiskinan. Gramen Bank adalah bank yang memberi pinjaman kepada kaum perempuan miskin bangladesh tanpa agunan.

Yunus membuktikan bahwa masyarakat miskin layak mendapatkan kredit dan masyarakat miskin adalah pembayar angsuran yang paling taat, menurut Yunus Masyarakat miskin mempunyai alasan kuat untuk membayar kreditnya kembali, yakni untuk mendapatkan pinjaman lagi dan melanjutkan hidup esok harinya. Jadi tidak ada alasan bagi mesyarakat miskin untuk tidak membayar hutangnya kembali.

Yunus beserta stafnya memulai usaha kredit bagi kaum miskin Bangladesh dengan usaha pinjaman kecil – kecilan sampai akhirnya berdiri Grameen Bank yang sahamnya dimiliki oleh nasabah – nasabahnya sendiri, sehingga gramen dijuluki bank kaum miskin. Dan kerja keras Yunus dan stafnya membuahkan hasil ribuan keluarga miskin berhasil meninggalkan kemiskinannya jauh dibelakang, bahkan grameen bank juga direplikasi dibanyak negara seperti Filipina, Malaysia, negara bagian Arkansas, dan lain – lain.

Yunus telah membuktikan bahwa akses kredit dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat miskin dan memutuskan lingkaran setan kemiskinan. Sudah seharusnya profesor – profesor ekonomi mengikuti jejak Yunus, turun gunung mengaplikasikan teorinya di lapangan, tidak hanya mengajarkan teori – teori ekonomi kapitalis di kelas. Dan sudah saatnya para bankir merangkul kaum miskin sebagai nasabahnya, jangan hanya ongkang – ongkang kaki menitipkan dananya ke SBI, yang hanya menambah beban negara. Pemerintah dan masyarakat harus bersama – sama berperang melawan kemiskinan.

Recommended Book :
Yunus, Muhammad.2007. Bank Kaum Miskin. Jakarta : Marjin Kiri.

[1] . Peraih Nobel Perdamaian 2006

Need Vs Want ( Individu Pengutang Sampai Negara Pengutang)

Terkadang sulit bagi kita untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Dan kita cenderung menuruti keinginan kita dan tanpa sadar  kita akhirnya menjadi boros (israf). Dan parahnya jika tidak bisa mengendalikan keinginan, seseorang bahkan nekat berhutang untuk memenuhi keinginannya.

“Dan berikanlah kepada keluarga – keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghamburkan hartamu  secara boros. Sesungguhnya pemboros – pemboros itu saudaranya setan dan setan itu sangat ingkat kepada Tuhan-Nya.”  (Al-Quran. Al Isra : 26 – 27 )

Ga mau kan sodaraan dengan setan ? makanya Islam melarang umatnya menghamburkan hartanya secara boros. Keinginan manusia cenderung tanpa batas, sedangkan kebutuhan ada batasnya. Kebanyakan manusia cenderung mengikuti gaya hidup mewah, demi gengsi dan prestise mereka tidak segan – segan untuk berhutang, menganggap gaya hidup mewah dapat memuliakan mereka. Padahal kecendrungan manusia bermewah – mewah dan sibuk mengejar dunia akan melupakan mereka pada urusan akhirat.

Ternyata kebiasan menghutang individu tak jauh berbeda dengan kebiasaan negara kita berhutang. Untuk menutupi kekurangan biaya pembangunan maka pemerintahpun berhutang. Setiap tahunnya Indonesia harus menyisihkan 20 – 30 % dana APBN untuk membayar utang pokok dan cicilan utang. Dan pada tahun 2006 lalu dana APBN terkuras Rp.91,60 triliun untuk membayar pokok dan cicilan utang. Karena itu pemerintah tidak mempunyai kekuatan untuk membiayai pembangunan, makanya seharusnya dana utang itu 100% digunakan untuk pembangunan, bukan untuk dikorupsi. Bagaimanapun perilaku besar pasak dari pada tiang akan menjerumuskan menusia, dan merusak kehidupan ekonominya.

So, saat akan membeli barang, tanyakan dulu pada hatimu, ini butuh atau Cuma ingin ?!

By.Omy