Need Vs Want ( Individu Pengutang Sampai Negara Pengutang)
Terkadang sulit bagi kita untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Dan kita cenderung menuruti keinginan kita dan tanpa sadar kita akhirnya menjadi boros (israf). Dan parahnya jika tidak bisa mengendalikan keinginan, seseorang bahkan nekat berhutang untuk memenuhi keinginannya.
“Dan berikanlah kepada keluarga – keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya pemboros – pemboros itu saudaranya setan dan setan itu sangat ingkat kepada Tuhan-Nya.” (Al-Quran. Al Isra : 26 – 27 )
Ga mau kan sodaraan dengan setan ? makanya Islam melarang umatnya menghamburkan hartanya secara boros. Keinginan manusia cenderung tanpa batas, sedangkan kebutuhan ada batasnya. Kebanyakan manusia cenderung mengikuti gaya hidup mewah, demi gengsi dan prestise mereka tidak segan – segan untuk berhutang, menganggap gaya hidup mewah dapat memuliakan mereka. Padahal kecendrungan manusia bermewah – mewah dan sibuk mengejar dunia akan melupakan mereka pada urusan akhirat.
Ternyata kebiasan menghutang individu tak jauh berbeda dengan kebiasaan negara kita berhutang. Untuk menutupi kekurangan biaya pembangunan maka pemerintahpun berhutang. Setiap tahunnya Indonesia harus menyisihkan 20 – 30 % dana APBN untuk membayar utang pokok dan cicilan utang. Dan pada tahun 2006 lalu dana APBN terkuras Rp.91,60 triliun untuk membayar pokok dan cicilan utang. Karena itu pemerintah tidak mempunyai kekuatan untuk membiayai pembangunan, makanya seharusnya dana utang itu 100% digunakan untuk pembangunan, bukan untuk dikorupsi. Bagaimanapun perilaku besar pasak dari pada tiang akan menjerumuskan menusia, dan merusak kehidupan ekonominya.
So, saat akan membeli barang, tanyakan dulu pada hatimu, ini butuh atau Cuma ingin ?!
By.Omy